Siapa sebenarnya yang menopang komunikasi Presiden di ruang digital?
Riset Sintesa Strategi Indonesia (SSI) terhadap percakapan di X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, dan media online selama 5 Juni–5 Juli 2026
SIGAPNEWS | Jakarta - Riset Sintesa Strategi Indonesia (SSI) terhadap percakapan di X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, dan media online selama 5 Juni–5 Juli 2026 menemukan lebih dari 231 juta terpaan konten yang membahas Presiden Prabowo.
Namun, hanya sekitar 33 juta terpaan yang juga menyebut nama menteri atau wakil presiden. Artinya, sebagian besar citra Presiden di ruang digital masih bertumpu pada figur Presiden sendiri, bukan pada komunikasi kolektif kabinet.
SSI mencatat hanya lima tokoh yang masuk kategori Tier 1 dengan eksposur di atas satu juta terpaan: Gibran Rakabuming Raka, Bahlil Lahadalia, Nanik S. Deyang, Teddy Indra Wijaya, dan Purbaya Yudhi Sadewa.
Menariknya, tingginya eksposur tidak selalu menjadi keuntungan. Sebagian figur memiliki volume percakapan besar tetapi dibayangi sentimen negatif. Sebaliknya, Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang, mencatat sekitar 7,4 juta terpaan dengan dominasi sentimen netral, menunjukkan eksposur yang lebih banyak didorong oleh pembahasan program daripada kontroversi.
Temuan ini memperlihatkan satu hal penting: di era ketika mayoritas opini publik dibentuk melalui media sosial, komunikasi publik bukan lagi sekadar pelengkap kebijakan. Ia telah menjadi bagian dari keberhasilan pemerintahan itu sendiri.
Bagaimana menurut Anda? Apakah komunikasi Presiden seharusnya menjadi tanggung jawab bersama seluruh kabinet, atau cukup bertumpu pada figur Presiden? (BT)
Editor :Tri Joko
Source : Hasil Riset Digital