Gagasan Peternakan Sapi Terintegrasi untuk Perkuat Rantai Pasok Bakso Wonogiri
Prof. Dr. KP. H. Katno Hadi dan Mimpi Besar Bakso Wonogiri Mendunia dari Kandang Sapi
Prof. Dr. KP. H. Katno Had Pembina Perkumpulan Pengusaha Bakso Wonogiri Mendunia. Poster: Redaksi
SIGAPNEWS | SOLO - Gagasan membangun kemandirian rantai pasok daging sapi mulai dimatangkan Prof. Dr. KP. H. Katno Hadi, SE, MM, MH. Di tengah harga daging sapi yang mendekati Rp155.000 per kilogram, rencana tersebut diarahkan untuk memperkuat pasokan bahan baku bagi pelaku usaha bakso dan mi ayam sekaligus membuka peluang ekonomi baru di daerah.
Katno Hadi yang juga Pembina Perkumpulan Pengusaha Bakso Wonogiri Mendunia melihat persoalan harga dan ketersediaan daging sebagai tantangan yang perlu dijawab dari sisi hulu. Karena itu, ia menggagas pembangunan peternakan sapi terintegrasi yang rencananya berlokasi di Wonogiri atau Karanganyar.
Konsep tersebut tidak langsung dimulai dalam skala besar. Pada tahap awal, peternakan ditargetkan memiliki sekitar 200 ekor sapi. Jika model bisnis berjalan baik dan menunjukkan hasil yang positif, kapasitasnya akan dikembangkan secara bertahap hingga mencapai sekitar 2.000 ekor sapi.
Bagi Katno, pembangunan peternakan bukan sekadar investasi di sektor peternakan. Lebih jauh, proyek ini dirancang sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem usaha yang menghubungkan kebutuhan peternakan dengan industri pengolahan pangan, khususnya bisnis bakso.
“Intinya adalah memperkuat rantai pasok dari hulu. Mulai dari kandang, pakan, pengelolaan ternak hingga pasar daging harus dirancang lebih terintegrasi,” demikian gagasan yang dikembangkan Katno.
Dengan model tersebut, pelaku usaha bakso diharapkan tidak terlalu bergantung pada perubahan harga daging sapi di pasar. Ketersediaan bahan baku yang lebih terencana juga diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pengusaha dalam menjaga keberlangsungan dan daya saing usahanya.
Dari Hulu untuk Menguatkan Hilir
Gagasan peternakan terintegrasi ini sekaligus menunjukkan pentingnya membangun keterhubungan antara sektor peternakan dengan sektor usaha mikro dan kuliner. Bakso sebagai salah satu produk kuliner yang identik dengan Wonogiri memiliki pasar yang luas dan telah berkembang jauh melampaui daerah asalnya.
Katno berharap penguatan sektor hulu dapat menjadi fondasi bagi pengembangan industri bakso secara berkelanjutan. Dengan pasokan bahan baku yang lebih kuat, pengusaha bakso memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kapasitas produksi serta memperluas pasar.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menyambut positif gagasan tersebut. Dukungan itu tidak terlepas dari kiprah pengusaha asal Wonogiri yang selama ini telah membawa bisnis bakso ke berbagai daerah di Indonesia bahkan menembus pasar internasional seperti Arab Saudi dan Malaysia.
Kondisi tersebut menjadi modal sosial sekaligus potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan. Jika sektor hulu dan hilir dapat terhubung dengan baik, keberadaan peternakan sapi bukan hanya mendukung kebutuhan bahan baku tetapi juga dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.
Bukan Sekadar 2.000 Sapi
Target 2.000 ekor sapi pada akhirnya bukanlah tujuan akhir. Angka tersebut menjadi bagian dari tahapan untuk membangun model bisnis peternakan yang sehat, berkelanjutan dan mampu memberikan manfaat lebih luas.
Mimpi besarnya adalah terciptanya rantai pasok daging yang lebih kuat sehingga pengusaha bakso memiliki daya saing yang semakin tinggi.
Dari kandang sapi di Wonogiri atau Karanganyar, gagasan itu diarahkan menuju meja makan konsumen di berbagai daerah hingga pasar internasional.
Sebab, ketika peternakan kuat, bahan baku tersedia dan pengusaha semakin berdaya saing, cita-cita menjadikan Bakso Wonogiri mendunia bukan lagi sekadar slogan.
Rujukan informasi: PeristiwaSolo.com
Editor :Tri Joko
Source : PeristiwaSolo.com