Sultan Kacirebonan Bawa Nama Cirebon ke Panggung Internasional, Penghargaan Jadi Motivasi
Sekum PJS DKI Jakarta dan Sultan Kacirebonan Raih Penghargaan Global Citizenship XXI-UN UNESCO
Sekum DPD PJS) DKI Jakarta Dr. Muhamad Ied, S.E., M.M. dan Sultan Kacirebonan Sultan Pangeran Raja (PR) Abdulgani Natadiningrat, S.E. meraih penghargaan Global Citizenship XXI dan Aristocrat Philosopher World. Poster: Redaksi
SIGAPNEWS | CIREBON - Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Daerah Pro Jurnalis Media Siber (PJS) DKI Jakarta Dr. Muhamad Ied, S.E., M.M. dan Sultan Kacirebonan Sultan Pangeran Raja (PR) Abdulgani Natadiningrat, S.E. beserta tokoh lainnya meraih penghargaan Global Citizenship XXI dan Aristocrat Philosopher World dalam rangkaian Konvensi Supra Nasional Luar Biasa 2026 di Bangsal Prabayaksa Keraton Kacirebonan, Cirebon, Selasa (6/10/2026).
Penganugerahan tersebut menjadi bagian dari agenda yang mengangkat nilai kebudayaan, kemanusiaan, perdamaian, keberagaman dan tanggung jawab global dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Kegiatan bertema “WPF UNESCO dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika dari Kesultanan Kacirebonan untuk Aktif Menata Peradaban Dunia Lebih Baik” tersebut turut menghadirkan diplomat serta perwakilan WPF UNESCO dari sejumlah negara.
Forum tersebut membahas berbagai isu global, antara lain perdamaian, dialog antaragama, kemanusiaan, etika teknologi, kepemimpinan spiritual serta gagasan membangun peradaban dunia yang lebih baik.
Muhamad Ied: Penghargaan Menjadi Amanah untuk Memperkuat Kolaborasi
Bagi Muhamad Ied, penghargaan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kontribusinya dalam bidang budaya, media, teknologi serta membangun kolaborasi lintas negara.
Menurutnya, perkembangan teknologi komunikasi membuka ruang yang semakin luas bagi masyarakat untuk membangun jejaring kolaborasi sekaligus memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan Indonesia di tingkat internasional.
“Saya memaknai penghargaan ini bukan semata-mata sebagai pencapaian pribadi tetapi sebagai amanah untuk terus memberikan kontribusi melalui budaya media dan teknologi. Di tengah perkembangan dunia yang semakin terhubung kita memiliki tanggung jawab untuk membangun komunikasi yang memperkuat persaudaraan serta menghargai keberagaman,” ujar Muhamad Ied.
Ia menilai semangat Bhinneka Tunggal Ika memiliki relevansi kuat dengan gagasan global citizenship karena keberagaman Indonesia merupakan modal penting dalam membangun dialog dan kerja sama internasional.
“Bhinneka Tunggal Ika adalah nilai yang sangat penting untuk terus kita hidupkan dalam ruang global. Melalui media teknologi dan kolaborasi lintas negara kita dapat memperkenalkan bahwa keberagaman bukan penghalang melainkan kekuatan untuk membangun perdamaian kemanusiaan dan peradaban yang lebih baik,” katanya.
Sebagai Sekum PJS DKI Jakarta, Muhamad Ied juga menempatkan media sebagai bagian penting dalam membangun komunikasi publik yang sehat sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat di tengah keberagaman.
Kontribusi dalam bidang media dan teknologi tersebut dinilai sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, terutama dalam membangun komunikasi yang menghargai perbedaan budaya, pemikiran dan latar belakang masyarakat.
Sultan Kacirebonan Bawa Nama Cirebon ke Panggung Internasional, Penghargaan Jadi Motivasi
Sementara itu, Sultan Kacirebonan Sultan PR Abdulgani Natadiningrat, S.E., menerima penghargaan Global Citizenship XXI dan Aristocrat Philosopher World sebagai bagian dari rangkaian agenda internasional yang mengedepankan isu kebudayaan, perdamaian dan kemanusiaan.
Penganugerahan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya Cirebon dalam percakapan mengenai berbagai isu global. Keraton Kacirebonan sebagai lokasi kegiatan juga memberikan makna tersendiri karena memiliki akar sejarah dan kebudayaan yang kuat dalam perjalanan Cirebon.
Melalui agenda tersebut, nilai Bhinneka Tunggal Ika, keberagaman, perdamaian dan kemanusiaan menjadi bagian dari pesan yang dibawa ke ruang dialog internasional.
Warisan budaya Cirebon diharapkan tidak hanya dipandang sebagai peninggalan sejarah tetapi juga sebagai sumber nilai yang dapat memberikan kontribusi dalam membangun dialog peradaban dunia.
Sultan Abdulgani menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang diterimanya. Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk terus menyuarakan nilai-nilai perdamaian dunia sekaligus menjaga dan memperkenalkan warisan budaya Kacirebonan.
“Semangat Bhinneka Tunggal Ika sesungguhnya sangat dekat dengan perjalanan sejarah Cirebon. Di kota ini berbagai unsur budaya Nusantara dan pengaruh dari berbagai belahan dunia bertemu berinteraksi dan kemudian melahirkan kebudayaan Cirebon yang memiliki karakter tersendiri,” ujarnya.
Menurut Sultan Abdulgani, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan Cirebon tidak hanya sebagai daerah yang memiliki warisan keraton dan kebudayaan tetapi juga sebagai daerah yang memiliki pesan penting mengenai toleransi, keberagaman, persaudaraan dan perdamaian.
“Penghargaan ini juga menjadi motivasi bagi saya untuk terus menyuarakan perdamaian dan kemanusiaan. Dari Cirebon kita ingin menyampaikan pesan bahwa perbedaan budaya agama dan latar belakang bukan penghalang untuk membangun persaudaraan dan peradaban dunia yang lebih baik,” pungkasnya.
Pangeran Mohammad Soleh Ridwan: Budaya Cirebon Memiliki Nilai Universal
Pangeran Mohammad Soleh Ridwan selaku National President Branch Indonesia mengatakan penganugerahan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tetapi menjadi momentum untuk memperluas kontribusi budaya Cirebon dalam percakapan global.
“Penghargaan ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Cirebon ke dalam ruang dialog internasional. Cirebon memiliki sejarah panjang dalam membangun perjumpaan berbagai budaya agama dan tradisi. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan semangat perdamaian keberagaman dan kemanusiaan yang menjadi perhatian dunia saat ini,” katanya.
Menurutnya, keberadaan Keraton Kacirebonan sebagai lokasi kegiatan memiliki makna tersendiri. Tradisi dan sejarah yang hidup di lingkungan keraton dinilai dapat menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam membangun dialog kebudayaan di tingkat internasional.
“Kami berharap kegiatan ini dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Bukan hanya membawa nama Cirebon tetapi juga menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia memiliki nilai universal dan dapat menjadi bagian dari upaya membangun peradaban dunia yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa semangat Bhinneka Tunggal Ika perlu terus menjadi bagian dari dialog global.
“Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika Kesultanan Kacirebonan diharapkan dapat terus menjadi bagian dari dialog mengenai keberagaman perdamaian kemanusiaan dan pembangunan peradaban dunia,” ungkapnya.
Memperkuat Pesan Bhinneka Tunggal Ika
Penganugerahan kepada sejumlah tokoh tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan nilai-nilai lokal dengan isu-isu global.
Kehadiran Muhamad Ied dari lingkungan media dan teknologi serta Sultan Kacirebonan dari lingkungan kebudayaan menunjukkan adanya ruang kolaborasi lintas bidang dalam membawa pesan Indonesia ke forum internasional.
Semangat tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan kebangsaan tetapi juga dapat menjadi nilai yang relevan dalam membangun dialog mengenai perdamaian, keberagaman, kemanusiaan dan peradaban dunia.
Selain Sultan Kacirebonan, sejumlah tokoh dari berbagai daerah juga mendapatkan penghargaan dalam rangkaian agenda tersebut.
Sertifikat World Philosophical Forum (WPF) – Socratic Philosophical School
Berdasarkan sertifikat yang diterima, World Philosophical Forum (WPF) – Socratic Philosophical School melalui program USE-UN (UNESCO) Global Citizenship Fostering Program memberikan Civil Certificate kepada Muhamad Ied.
Sertifikat tersebut menyatakan bahwa para penerima telah memperoleh pengetahuan sipil supranasional dan global serta memperoleh status “Citizen of the Fourth-XXI (of the USE)”.
Sertifikat diterbitkan di Athens, Greece, pada 31 Agustus 2026 dan ditandatangani oleh Igor Kondrashin selaku WPF President, Secretary-General of Supreme Council of Humanity.
Penganugerahan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pesan bahwa kebudayaan, media, teknologi dan kearifan lokal dapat menjadi bagian dari dialog global dalam membangun perdamaian, kemanusiaan, keberagaman serta peradaban dunia yang lebih baik. (TJ)
Editor :Tri Joko
Source : Redaksi