Peningkatan Ekonomi Kreatif UMKM Berkelanjutan
ITB Hadir di Ketapang, Daun Nanas Disulap Jadi Produk Ekonomi Kreatif Ramah Lingkungan
Tim Pengabdian Masyarakat ITB melaksanakan pelatihan pemanfaatan serat daun nanas bagi masyarakat Kabupaten Ketapang pada 27–28 Januari 2026. Foto: Tim Pengabdian Masyarakat ITB
SIGAPNEWS | Ketapang, Kalimantan Barat - Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat melaksanakan pelatihan pemanfaatan serat daun nanas bagi masyarakat Kabupaten Ketapang pada 27–28 Januari 2026. Program ini bertujuan mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal sekaligus mendukung praktik keberlanjutan dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Selama ini, daun nanas kerap dipandang sebagai limbah pertanian yang dibuang, dibakar, atau dibiarkan membusuk. Padahal, daun nanas memiliki potensi besar untuk diolah menjadi serat bernilai ekonomi tinggi sebagai bahan baku berbagai produk kerajinan ramah lingkungan. Melalui pelatihan ini, masyarakat diperkenalkan pada proses pengambilan dan pengolahan serat nanas sebagai alternatif sumber pendapatan yang berkelanjutan.
Dalam program bertajuk “Penguatan Literasi Budaya Kreatif melalui Identifikasi Nilai dan Potensi Pemanfaatan Serat Nanas di Ketapang: Implikasinya pada Peningkatan Ekonomi Kreatif UMKM Berkelanjutan”, para pakar ITB memberikan edukasi mengenai konsep eco design, literasi budaya, dan kreativitas dalam produksi kerajinan tangan. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk lokal di pasar nasional maupun internasional.
Tim pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Dr. Tri Sulistyaningtyas, M.Hum., dengan anggota Yani Suryani, M.Hum., Adi Supriadi, M.M., Evi Azizah Febriyanti, M.Hum., serta Sira Kamila Dewanti Amalia, M.Hum. Kegiatan ini juga melibatkan pakar kriya, yakni Dr. Dian Widiawati, M.Sn., dari KK Kriya dan Tradisi FSRD ITB, serta Prof. Dr. Husen Hendriyana, S.Sn., M.Ds., dari FSRD ISBI Bandung.
Pelatihan diikuti oleh masyarakat dari sejumlah desa, antara lain Desa Sungai Bakau, Sungai Besar, Pelang, Baru, Kali Nilam, Sungai Melayu, dan Pesaguan Kanan, yang tersebar di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Delta Pawan, Melayu Raya, dan Benua Kayong. Program ini turut didukung oleh perwakilan desa dan Pemerintah Kabupaten Ketapang sebagai bagian dari penguatan UMKM lokal.
Dalam pelatihan tersebut, masyarakat diajarkan teknik penguraian serat daun nanas melalui metode manual dan pengenalan mesin dekotikator. Secara manual, proses dilakukan dengan teknik pengerokan (scraping) yang diikuti perendaman semalaman hingga serat berubah menjadi putih dan siap diolah. Serat nanas tersebut kemudian dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk kerajinan, seperti tas, sandal, topi, kain tenun, hingga lampu hias.
Salah satu peserta pelatihan yang berprofesi sebagai perajin kayu mengungkapkan bahwa selama ini banyak bahan alam dibuang tanpa disadari nilai manfaatnya, sementara kerusakan lingkungan terus meningkat. Pelatihan ini membuka wawasan baru bahwa limbah pertanian dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
Melalui pendampingan ini, ITB menegaskan bahwa tantangan utama masyarakat bukan terletak pada keterbatasan sumber daya, melainkan pada minimnya pengetahuan yang menghubungkan potensi lokal dengan kebutuhan pasar. Dengan pemahaman terhadap karakter bahan, teknik pengolahan dan peluang produk, masyarakat Ketapang diharapkan tidak lagi bergantung pada satu komoditas semata.
Pemanfaatan serat daun nanas pun menjadi simbol perubahan paradigma, dari limbah yang dianggap beban menjadi sumber pengetahuan, kreativitas dan masa depan ekonomi kreatif berkelanjutan di Kabupaten Ketapang. (TJ)
Editor :Tri Joko
Source : Tim Pengabdian Masyarakat ITB