Aksara Abadi di Pelataran Bromo: Menenun Identitas, yang Mengukir Sejarah Dunia
SIGAPNEWS.CO.ID | Malang – Di sebuah sudut agung Kabupaten Malang, berselimut kabut yang senantiasa memeluk lereng-lereng pegunungan, berdirilah Desa Gubugklakah. Bukan sekadar gerbang menuju kemegahan Bromo, Gubugklakah adalah tanah yang diberkati dengan kreativitas dan inovasi yang meluap. Dari rahim desa yang indah inilah, lahir sebuah kekuatan kolektif bernama Lampahklakah, yakni sebuah komunitas visioner yang menjadi jantung penggerak sekaligus rumah bagi seluruh bidang pengabdian desa. Sebagai inisiator utama, Lampahklakah-lah yang menyemai benih kegelisahan akan sunyinya dokumentasi bahasa ibu, menyadari bahwa tanpa aksara yang tertulis, bahasa Tengger yang menjadi sukma masyarakatnya berisiko tergerus zaman.
Takdir kemudian merenda pertemuan antara visi besar Lampahklakah dengan Kelompok KKM Akshara Vardhana UIN Malang. Nama Akshara Vardhana hadir sebagai jawaban yang sejalan dengan ruh perjuangan ini. Akshara bermakna simbol atau huruf yang tak terhancurkan, sedangkan Vardhana berarti pertumbuhan yang membawa kemajuan. Pertemuan ini melahirkan sebuah sinergi yang utuh, dari kegelisahan kultural yang digagas Lampahklakah, Kelompok KKM Akshara Vardhana UIN Malang menata aksara menjadi kamus yang sistematis, sementara Lampahklakah menjaga denyut bahasa dengan menerjemahkan dan memvalidasi setiap lema ke dalam bahasa Tengger. Keduanya berkelindan, memastikan bahwa setiap lema yang tercatat tidak hanya benar secara ilmiah, tetapi juga hidup secara rasa.
Pada awalnya, perjalanan ini nampak seperti tugas pengabdian kampus yang formal. Namun, waktu adalah penenun makna yang luar biasa. Seiring berjalannya hari di bawah langit Gubugklakah, chemistry pun mulai tumbuh dengan indahnya, baik secara personal antaranggota maupun secara kelompok antara Kelompok KKM Akshara Vardhana UIN Malang dengan pihak Lampahklakah. Pendampingan yang tulus dan keterbukaan hati dari kawan-kawan Lampahklakah meluruhkan sekat-sekat asing, mengubah interaksi profesional menjadi ikatan emosional yang hangat. Mereka telah melebur dalam satu ikatan keluarga yang pekat, di mana kegelisahan masyarakat kini berdenyut menjadi tanggung jawab moral yang dipanggul bersama dengan penuh totalitas.
Mahakarya ini adalah sebuah lompatan literasi ambisius untuk menembus dinding lembaga pendidikan dan ranah akademik, menjadi sejarah yang tertulis di era modern. Lebih dari sekadar buku, kamus ini adalah identitas nasional yang diperjuangkan bersama oleh Lampahklakah dan Kelompok KKM Akshara Vardhana UIN Malang untuk meraih hak cipta di Perpustakaan Nasional serta pengakuan resmi dari pemerintah. Kami menyadari bahwa dampak langkah ini berskala internasional. Mengingat Bromo dan Semeru adalah salah satu keajaiban dunia, kamus ini menjadi jembatan bagi mata dunia untuk mengenal sukma Suku Tengger, sekaligus menjadi pilar penunjang pariwisata yang bermartabat.
Ke depan, kami menitipkan mimpi agar Kamus Bahasa Tengger ini terus disempurnakan. Dari Gubugklakah, sebuah desa indah nan inovatif di kaki Bromo, sebuah bahasa kini diberi ruang untuk kembali berdenyut; diinisiasi dan dikerjakan bersama oleh ketulusan Lampahklakah, diperjuangkan dengan totalitas akademis Kelompok KKM Akshara Vardhana UIN Malang, dan diwariskan kepada dunia sebagai bukti bahwa cinta terhadap identitas adalah abadi.
Editor :Syarif Hidayatullah
Source : Nur Latifatul Qolbi