DPMK ITB, Mind ID dan Wakaf Salman ITB Hadirkan Solusi Berbasis Budaya untuk Ketahanan Air Bersih
Inovasi ITB Hidupkan Kearifan Lokal: Sumur Kultur Perkuat Akses Air Warga Pulau Rinca
Tim ITB menghadirkan inovasi berbasis kearifan lokal melalui pembangunan Sumur Kultur di Desa Pasir Panjang, Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat, NTB. Foto: Humas DPMK ITB
SIGAPNEWS | Manggarai Barat, NTB - Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan inovasi berbasis kearifan lokal melalui pembangunan Sumur Kultur untuk memperkuat ketahanan air bersih di Desa Pasir Panjang, Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Program yang dilaksanakan pada Oktober 2025 sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh tim Kelompok Keahlian Literasi Budaya Visual FSRD ITB bersama Kelompok Keahlian Petrologi, Volkanologi dan Geokimia FITB ITB.
Didanai oleh Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB serta didukung Mind ID dan Wakaf Salman ITB, program ini hadir sebagai respons atas keterbatasan akses air bersih yang selama ini dihadapi warga.
Masyarakat setempat bergantung pada sumur gali sedalam 8–9 meter yang jumlahnya terbatas dan berjarak jauh dari permukiman. Pada musim kemarau, warga bahkan harus membeli air dari Labuan Bajo dan membawanya menggunakan jeriken lewat transportasi laut.
.jpg)
Berangkat dari situasi tersebut, tim ITB yang dipimpin Dr. Tri Sulistyaningtyas, M.Hum., bersama Dr. Eng. Ir. Very Susanto, M.T., Prof. Dr. Acep Iwan Saidi, M.Hum., Yani Suryani, M.Hum., dan Harifa Ali Albar Siregar, Ph.D., merancang Sumur Kultur sebagai pendekatan teknis sekaligus sosial-kultural. Air dipahami bukan hanya sebagai kebutuhan dasar, tetapi sebagai bagian dari identitas dan tradisi masyarakat Pulau Rinca yang hidup berdampingan dengan alam, termasuk dengan habitat asli Komodo.
“Sumur Kultur tidak hanya menyelesaikan persoalan ketersediaan air, tetapi juga mengajak masyarakat untuk melihat kembali warisan budaya dalam bermasyarakat,” ujar Dr. Tri Sulistyaningtyas.
Dalam prosesnya, masyarakat terlibat penuh mulai dari diskusi awal, penentuan lokasi, hingga pembangunan. Pendekatan partisipatif ini dinilai mampu meningkatkan rasa memiliki, sehingga keberlanjutan dan pemeliharaan fasilitas dapat terjamin.

Pembangunan Sumur Kultur juga menegaskan bahwa pengabdian masyarakat ITB tidak hanya berorientasi pada teknologi modern, tetapi turut memperkuat nilai budaya dan kolaborasi lintas lembaga. Dukungan Mind ID sebagai sponsor serta Wakaf Salman ITB sebagai mitra turut memperlihatkan model sinergi efektif dalam pemberdayaan wilayah 3T.
Warga Desa Pasir Panjang menyambut antusias hadirnya sumur tersebut. Bagi mereka, sumur ini tidak sekadar sumber air, tetapi ruang belajar untuk memahami alam dan mempraktikkan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari. Selain memenuhi kebutuhan domestik, keberadaannya juga mendukung aktivitas pariwisata berbasis komunitas, mengingat banyak warga setempat bekerja sebagai pemandu wisata di Pulau Rinca.
Dengan terbangunnya Sumur Kultur, masyarakat kini memiliki infrastruktur air yang lebih berkelanjutan sekaligus mempererat hubungan mereka dengan nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Program ini menjadi bukti nyata kontribusi ITB dalam menghadirkan solusi berbasis budaya untuk menjawab tantangan lingkungan di Indonesia. (TJ)
Editor :Tri Joko
Source : Humas DPMK ITB