PRSI Banten Konsolidasi dengan Ketua Umum dan Dewan Pakar, Dorong Penguatan Robotika Nasional
Ketua Umum PRSI Bersama Pengurus PRSI Provinsi Banten
JAKARTANEWS | BANDUNG - Langkah menuju Indonesia Emas 2045 tak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dalam menguasai teknologi. Di tengah arus percepatan revolusi industri, Persatuan Robotika Seluruh Indonesia (PRSI) mulai memainkan peran strategisnya dalam menjembatani dunia pendidikan dan industri.
Upaya tersebut terlihat dari konsolidasi yang dilakukan Pengurus Provinsi PRSI Banten dengan Ketua Umum dan Dewan Pakar PRSI di sebuah workshop pengembangan robotika. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan bagian dari langkah menyatukan visi besar pengembangan ekosistem robotika nasional.
Dewan Pakar PRSI, H. Lukman Abdul Fatah, menilai transformasi teknologi harus dimulai dari ruang kelas. Salah satu langkah konkret yang tengah disiapkan adalah mendorong pembelajaran Computer Numerical Control (CNC) masuk ke sekolah-sekolah.
“Ke depan, CNC akan menjadi kebutuhan. Dunia industri sudah bergerak cepat, dan pendidikan tidak boleh tertinggal,” ujarnya.
Bagi PRSI, integrasi antara pendidikan dan industri bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Ketua Umum PRSI, Wahyu Hidayat, menegaskan bahwa organisasi ini hadir sebagai wadah strategis untuk menyatukan berbagai sektor dalam pengembangan robotika.
“PRSI adalah organisasi nasional yang berfokus pada pengembangan ekosistem robotika di Indonesia secara menyeluruh dan berkelanjutan. Dengan dasar hukum SK Kemenkumham RI Nomor AHU-0008070.AH.01.07.TAHUN 2024, PRSI mengintegrasikan sektor pendidikan, kepemudaan dan olahraga, industri bisnis, serta riset dan pengembangan,” kata Wahyu.
Ia menambahkan, sinergi lintas sektor ini menjadi fondasi penting dalam mendorong inovasi dan daya saing bangsa di bidang teknologi.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, langkah PRSI ini menjadi relevan. Negara-negara maju telah lebih dahulu menempatkan robotika dan otomasi sebagai tulang punggung industri mereka. Tanpa kesiapan sejak dini, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar, bukan pelaku utama.
Konsolidasi PRSI Banten menjadi salah satu potret bagaimana gerakan ini mulai dibangun dari daerah. Harapannya, inisiatif ini dapat berkembang menjadi gerakan nasional yang mampu melahirkan generasi unggul, adaptif, dan siap menghadapi era otomasi.
Ketua Umum PRSI, Wahyu Hidayat, melihat persoalan itu sebagai tantangan sekaligus peluang. Di tangannya, PRSI tidak sekadar menjadi organisasi, tetapi ruang temu berbagai kepentingan pendidikan, industri, hingga riset.
“PRSI adalah organisasi nasional yang berfokus pada pengembangan ekosistem robotika di Indonesia secara menyeluruh dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menyebut, dengan dasar hukum SK Kemenkumham RI Nomor AHU-0008070.AH.01.07.TAHUN 2024, PRSI dirancang sebagai wadah kolaboratif. Di dalamnya, berbagai sektor strategis disatukan: pendidikan, kepemudaan dan olahraga, industri bisnis, hingga riset dan pengembangan.
Bagi Wahyu, menyatukan sektor-sektor itu bukan perkara mudah. Namun tanpa itu, Indonesia akan terus berjalan terpisah,pendidikan menghasilkan lulusan, industri mencari tenaga siap pakai, sementara riset berjalan sendiri.
Ketua PRSI Banten, Hari Santoso, menegaskan bahwa langkah ini tidak akan berhenti pada tataran wacana. Ia memastikan pihaknya akan segera menindaklanjuti program-program robotika di daerah sebagai bagian dari kontribusi nyata untuk bangsa.
“PRSI Banten siap bergerak. Program robotika untuk negeri akan kami dorong agar benar-benar terwujud, sebagai bagian dari upaya menuju generasi emas 2045,” ujarnya.
Robotika, pada akhirnya, bukan hanya soal mesin. Ia adalah tentang bagaimana sebuah bangsa menyiapkan masa depannya.
Menuju 2045, pekerjaan rumahnya jelas menyatukan pendidikan, industri, dan inovasi dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Robotika, dalam hal ini, bukan sekadar teknologi melainkan jembatan menuju masa depan Indonesia.(Red)
Editor :Tri Joko
Source : Redaksi