PRSI Perkuat Kolaborasi Teknologi Nasional Lewat Forum Bukber Lemhannas
Dewan Pengarah PRSI Bambang Susilo bersama Kepela Staf Kepresidenan Mohammad Qodari dalam Forum Bukber Lemhannas
JAKARTANEWS | JAKARTA - Suasana hangat bulan Ramadhan terasa kental di lingkungan Kantor Staf Presiden saat para tokoh nasional berkumpul dalam sebuah acara buka puasa bersama. Namun, pertemuan ini bukan sekadar ajang silaturahmi. Di balik kebersamaan tersebut, terselip diskusi strategis tentang masa depan teknologi Indonesia, Selasa (17/93/2026)
Acara yang diinisiasi oleh Kepala Staf Presiden, Mohammad Qodari, ini mempertemukan para alumni Lemhannas RI Angkatan XXVI dari berbagai latar belakang mulai dari birokrat, akademisi, hingga praktisi di sektor strategis. Di tengah dinamika global yang kian dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus proyeksi arah pembangunan nasional.
Di antara para undangan, hadir perwakilan Persatuan Robotika Seluruh Indonesia (PRSI), Bambang Susilo. Sebagai Dewan Pengarah PRSI sekaligus alumni Lemhannas, ia memanfaatkan momen tersebut untuk menyuarakan pentingnya kolaborasi dalam membangun kekuatan teknologi nasional.
Bagi Bambang, kemajuan teknologi bukan semata soal perangkat canggih atau inovasi mutakhir. Lebih dari itu, teknologi adalah tentang manusia tentang bagaimana generasi muda dipersiapkan untuk menjadi pelaku, bukan sekadar pengguna.
“Fondasi utama teknologi itu SDM. Kalau sejak dini kita tidak siapkan, maka kita hanya akan jadi pasar,” ungkapnya dalam perbincangan di sela acara.
Pandangan tersebut sejalan dengan langkah PRSI yang terus mendorong program “Robotika untuk Negeri”. Program ini tidak hanya mengenalkan teknologi kepada generasi muda, tetapi juga menanamkan cara berpikir kritis, kreatif, dan solutif melalui pendekatan robotika.
Di forum yang sarat jejaring strategis itu, PRSI melihat peluang besar untuk memperluas kolaborasi. Tidak hanya dengan pemerintah, tetapi juga dengan para alumni Lemhannas yang kini tersebar di berbagai sektor penting. Sinergi ini dinilai krusial dalam membangun ekosistem teknologi nasional yang kuat dan berdaya saing.
Momentum buka puasa bersama ini pun menjadi simbol bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari ruang rapat formal. Terkadang, gagasan besar justru lahir dari percakapan hangat yang dipenuhi semangat kebersamaan.
Di tengah tantangan global dan percepatan transformasi digital, langkah kecil seperti ini menjadi bagian dari mozaik besar menuju cita-cita Indonesia Emas 2045,sebuah masa depan di mana teknologi dan kualitas manusia Indonesia berjalan beriringan. (Red)
Editor :Tri Joko
Source : Redaksi