Prinsip Peumulia Jamee Mencerminkan Keterbukaan, Penghormatan & Kemuliaan dalam Menerima Keberagaman
Refleksi Munas LDII ke-X: Meneguhkan Peran Ormas dalam Merawat Harmoni dari Ujung Barat Indonesia
Agus Halim, Kepala Dinas Kominfotiksa Kota Sabang- Aceh. Foto: Istimewa
SIGAPNEWS | Sabang, Aceh - Pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) ke-X Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menjadi momentum penting untuk tidak hanya melakukan konsolidasi internal organisasi, tetapi juga sebagai ruang refleksi kritis atas peran organisasi kemasyarakatan dalam menjawab dinamika kebangsaan yang semakin kompleks.
Dalam konteks ini, Kota Sabang sebagai wilayah paling ujung barat Indonesia memiliki perspektif khas dalam merasakan dan memaknai arah gerak organisasi nasional.
Sebagai beranda terdepan Nusantara, Sabang bukan sekadar titik geografis, melainkan cerminan miniatur Indonesia. Keberagaman yang tumbuh dan hidup berdampingan menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas sosial. Namun di tengah keterbukaan informasi yang kian masif, tantangan seperti polarisasi, disinformasi dan potensi konflik berbasis perbedaan juga tidak dapat diabaikan.
“Dari Sabang, kami melihat bahwa kekuatan Indonesia justru terletak pada kemampuannya merawat perbedaan menjadi harmoni. Ini bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi kesadaran kolektif seluruh elemen bangsa,” ujar Agus Halim.
Hasil-hasil Munas LDII ke-X seyogianya tidak berhenti pada tataran normatif dan seremonial. Dibutuhkan langkah konkret, terukur dan berkelanjutan agar nilai-nilai yang dihasilkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat hingga ke daerah. Organisasi kemasyarakatan dituntut untuk tidak hanya memperkuat internal, tetapi juga hadir sebagai motor penggerak literasi, moderasi dan penguatan karakter kebangsaan.
“Sudah saatnya kita menggeser narasi bukan lagi mempertajam perbedaan, tetapi merawatnya sebagai rahmat dan kekayaan bangsa. Perbedaan adalah kekuatan sosial yang jika dikelola dengan bijak akan memperkokoh persatuan,” tegasnya.
Dalam konteks lokal Aceh, khususnya Sabang, nilai-nilai kearifan telah lama menjadi fondasi kehidupan sosial. Prinsip “peumulia jamee” (memuliakan tamu) mencerminkan keterbukaan, penghormatan dan kemuliaan dalam menerima keberagaman.
Sebagai daerah tujuan wisata unggulan, Sabang memiliki tanggung jawab moral untuk menampilkan wajah Indonesia yang ramah, aman dan inklusif.
“Nilai peumulia jamee harus terus kita hidupkan. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi identitas masyarakat Sabang dalam menyambut siapa pun dengan penuh hormat, tanpa melihat latar belakangnya,” lanjut Agus Halim.
Di sisi lain, era digital menghadirkan tantangan baru yang membutuhkan kesiapan seluruh elemen masyarakat. Literasi digital, etika bermedia, serta kemampuan memilah informasi menjadi kebutuhan mendasar di tengah derasnya arus informasi.
“Organisasi kemasyarakatan harus berperan aktif dalam membangun masyarakat yang cerdas secara informasi. Kita membutuhkan masyarakat yang tidak hanya religius, tetapi juga kritis dan bertanggung jawab dalam menyikapi informasi,” ujarnya.
Refleksi ini juga menegaskan bahwa pembangunan nasional harus menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah terluar seperti Sabang.
“Indonesia tidak dibangun hanya dari pusat, tetapi juga dari pinggiran. Dari Sabang, kita ingin menunjukkan bahwa harmoni, toleransi dan kemajuan dapat berjalan beriringan,” tutupnya.
Sebagai penutup, momentum Munas LDII ke-X diharapkan menjadi titik tolak untuk memperkuat peran organisasi kemasyarakatan sebagai perekat sosial bangsa. Dari Sabang, semangat untuk merawat keberagaman sebagai harmoni terus dijaga menjadikannya miniatur Indonesia yang damai, inklusif dan bermartabat. (TJN)
Oleh: Agus Halim, Kepala Dinas Kominfotiksa Kota Sabang- Aceh
Editor :Tri Joko
Source : Kadinas Kominfotiksa Kota Sabang