Pendidikan Jurnalistik oleh Mahmud Marhaba (Ketum DPP PJS & Ahli Pers Dewan Pers)
Edukasi Jurnalistik: Catatan Ramadhan Hari Ke-1, Siddik di Ujung Pena
Edukasi Jurnalistik: Catatan Ramadhan Hari Ke-1 oleh Mahmud Marhaba, Ketua Umum DPP PJS & Ahli Pers Dewan Pers
Oleh: Mahmud Marhaba
(Ketua Umum DPP PJS & Ahli Pers Dewan Pers)
SIDDIQ DI UJUNG PENA
Saat Puasa Sah, Namun Pahala Hilang di Meja Redaksi
Hari yang pertama dari Ramadhan 1447 H. Suasana tenang, perut mulai belajar menahan rasa lapar dan haus. Namun bagi seorang jurnalis, tantangan berpuasa bukan hanya soal fisik. Kesulitan yang sebenarnya terletak pada akal dan nurani.
Sering kita terbuai. Kita mengira bahwa puasa kita sudah benar hanya karena tidak makan dan minum sejak Imsak. Namun, ada bahaya besar yang mengintai profesi kita: Puasa mungkin sah menurut fiqih, tetapi bisa jadi pahalanya nol di hadapan Allah. Apa penyebabnya? Satu berita yang keliru, satu informasi yang tidak terverifikasi atau satu "pengolahan" fakta demi mendapatkan traffic.
Tabayyun adalah Nyawa, Verifikasi adalah Nafas
Dalam Islam, kita memiliki istilah Tabayyun (mencari kejelasan informasi). Dalam kitab suci profesi kita jurnalis ini dikenal sebagai Verifikasi. Keduanya adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Tanpa verifikasi, sebuah berita hanya menjadi fitnah yang rapi. Dan kita semua tahu, menyebarkan kebohongan adalah dosa yang terus berlanjut, bahkan ketika kita terlelap.
Bayangkan ironisnya: Di siang hari kita berpuasa demi keyakinan, tetapi pada saat yang sama jari kita menyebarkan hoaks atau berita yang menyesatkan yang dapat melukai orang lain. Apakah kita berhak berharap pahala?
Meneladani Sifat Siddiq Melalui Pasal 1 KEJ
Di hari pertama ini saya ingin mengajak rekan-rekan untuk kembali mempelajari Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik (KEJ): "Wartawan Indonesia bersikap independen, memproduksi berita yang akurat, berimbang dan tidak berniat buruk. "
Ini sejalan dengan sifat yang dijunjung tinggi oleh Nabi Muhammad SAW: Siddiq (Jujur/Benar). Bagi seorang wartawan, kejujuran terwujud dalam produk jurnalistik yang AKURAT.
Di bulan suci ini, tingkat independensi kita diuji dengan sangat keras.
Kepada wartawan di lapangan: Apakah Anda menulis fakta yang murni, ataukah tulisan Anda "condong" karena ada imbalan uang atau janji manis? Ingat, jika Anda merugikan orang lain demi uang, itu bukan berita. Itu hanyalah sampah. Di bulan Ramadhan, itu adalah dosa ganda.
Kepada Redaktur: Anda adalah penyaring. Jangan izinkan judul clickbait yang menipu isi hanya untuk menarik pembaca. Jangan korbankan akurasi demi kecepatan.
Kepada Pemimpin Redaksi: Lindungi wartawan Anda. Pertahankan kehormatan media. Jika Pemred lemah terhadap pengaruh pemilik modal atau politik, maka kepercayaan publik akan runtuh.
Ingat, pandangan bahwa berita buruk itu baik sudah ketinggalan zaman. Di era ini, Jurnalisme yang Baik adalah Bisnis yang Baik. Kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga.
Lelahmu adalah Lillah
Akhir kata, saya ingin menyapa rekan-rekan yang hari ini masih bekerja keras di lapangan. Saat orang-orang lain berkumpul dengan keluarga menunggu buka puasa, Anda mungkin masih mencari narasumber atau mengetik berita di pinggir jalan.
Jangan merasa rendah diri. Jerih payah Anda mencari informasi yang benar, insyaAllah akan dicatat sebagai jihad melawan kebodohan. Berita yang Anda tulis yang membawa pencerahan adalah sedekah informasi bagi masyarakat.
Mari jadikan Ramadhan ini sebagai momen untuk kembali pada khittah. Tulis kebenaran, jadilah independen dan pastikan setiap huruf yang kita ketik menjadi amal jariyah, bukan penentu kita masuk neraka.
Catatan Penulis:
Teks ini merupakan ringkasan dari materi pendidikan jurnalistik yang saya sajikan secara visual (video reels) pada Hari Pertama Ramadhan. Untuk melihat alur pemikiran visual dan interaksinya, silakan kunjungi profil Facebook saya di: https://www.facebook.com/mahmud.marhaba.5 (TJN)
Editor :Tri Joko
Source : Ketum PJS